stockchart_introJune 17, 2009 | Filed Under: ADX, Aroon, Budgeting, Chaikin Money Flow Index, Day Trading, EMA, Equity Valuation, MACD, OBV, Oscillators, RSI, Swing Trading, Technical Analysis, Technical Indicators, Trends, Volume
 
http://www.investopedia.com/slide-show/tools-of-the-trade/?utm_source=facebook&utm_medium=social&utm_campaign=fb-post-51314&utm_content=ctp-article_cti-tools-of-the-trade
 
Technical analysis dibagi atas 2 kategori yaitu chart patterns dan indicators.
Indicators merupakan perhitungan berdasarkan harga dan volume sebuah saham dengan memperhitungkan faktor seperti money flow, trends, volatility and momentum.
 
Stock Oscillators and Indicators
 
Indicator = alat untuk mendapatkan pengetahuan lebih dalam perihal “the supply and demand” dari saham dalam menggunakan “technical analysis”

Indikator volume menunjukan pergerakan harga serta kemungkinan bahwa pergerakan harga akan bersinambungan
Indikator tersebut dapat digunakan sebagai dasar melakukan trading, karena memberi isyarat buy-and-sell
 
Indikator ada 2 macam yaitu:

  • leading
  • lagging
  •  
    Leading Indicators

    Leading indikators dibuat untuk meneruskan pergerakan harga saham berdasarkan prediksi yaitu

  • the Relative Strength Index (RSI)
  • the Stochastics Oscillator.
  •  
    Sebuah leading indikator paling menonjol pada saat “sideways or non-trending trading ranges”
     
    Leading indikator biasanya berupa oscillators… itu berarti bahwa indikator di plot didalam
    “bounded range”
    Oscillator akan bergerak pada keadaan “overbought” dan “oversold” berdasarkan set levels pada specific oscillator.
    ================================================

    Sebuah oscillator adalah RSI, yang bergerak antara 0 s/d 100
    Sebagai patokan apabila RSI diatas 70 maka dianggap keadaan “overvalued”

    ================================================
     
    Sebuah lagging indikator tampak pada saat “trending periods” …yang perlu diperhatikan adalah bahwa pergerakan indikator adalah searah dengan pergerakan trend
    Sebuah Lagging indicator biasanya memperhatikan pergerakan harga yang sedikit mempunyai predictive qualities.

    Contohnya the moving averages dan Bollinger Bands

    Sangat berguna pada saat trending periods dikarenakan the lagging indicators memusatkan perhatian kepada “trend” dan menghasilkan lebih sedikit signal buy-and-sell
     
    I.On-Balance Volume

    The on-balance volume indicator (OBV) digunakan untuk mengukur pergerakan volume sebuah saham (positive dan negative) pada sebuah timeline tertentu
    Dasar pemikiran adalah bahwa volume akan mendahului pergerakan harga … apabila tampak peningkatan OBV,maka hal itu merupakan pertanda bahwa volume bertambah karena peningkatan harga
    Apabila tampak penurunan OBV berarti volume pada harga menurun bertambah (down)

    Lebih lengkap dibahas di Introduction to On-Balance Volume.)
     
    OBV dibuat oleh Joseph Granville pada tahun 1963 di bukunya “Granville’s New Key to Stock Market Profits.”

    Lebih lengkap dibahas di Exploring Oscillators and Indicators Tutorial.)
     
    ===================================================

    Dasar teori OBV adalah perbedaan perilaku antara smart money – institutional investors – dan retail investors.
    Apabila Mutual funds dan Pension funds memulai dengan melakukan pembelian pada saat retail investors mulai melakukan penjualan maka “volume” bertambah walaupun harga tidak banyak berubah
    Peningkatan volume akan memingkatkan harga dan pada saat itu larger investors akan mulai menjual sedangkan smaller investors mulai membeli

    ===================================================

    Contoh : Apabila harga close today lebih besar daripada kemarin maka volume hari ini ditambahkan pada OBV kemarin dan dianggap “up volume.”

    Sebaliknya apabila harga close today lebih kecil daripada kemarin, maka volume hari ini dikurangi dari OBV kemarin dan dianggap “down volume.
     
    on_balance_volume
     
    obv_indicator
     

    2.Accumulation/Distribution Line
     
    accdist_indicator
     
    Accumulation/distribution line (A/D line) = indikator untuk mengukur arah pergerakan uang dari saham

    Mirip dengan on-balance volume indicator kecuali selain hanya memperhatikan closing price pada period tertentu juga memperhatikan trading range pada period tersebut

    Garis naik menandakan penambahan tekanan pembelian karena saham berada diatas pertengahan range period ….Garis menurun menandakan tekanan jual
     
    Close Location Value

    Untuk membuat the accumulation/distribution (A/D) line maka wajib menemukan close location value (CLV), yang mencari lokasi “close” dan membandingkan dengan range period tertenu (one day, week or month).
     
    CLV mempunyai range value +1 to -1:

    value = 0 berarti harga closed dipertengahan high dan low dari range.
    value = +1 berarti close = high dari range .
    value = -1 berarti close = low dari range

    Menghitung The CLV

    CLV = ([(C-L) – (H – C)] / (H – L))
    atau

    CLVFormula1
     
    Close Location Value (CLV)
    Where:

    C = the closing price
    H = the high of the price range
    L = the low of the price range
     
    Lebih lengkap dibahas di Trend-Spotting With The Accumulation/Distribution Line
     
    3.Average Directional Index
     
    ADX2
     
    ADX biasanya di plotted pada sebuah chart window bersamaan dengan 2 garis…biasanya disebut the DMI (Directional Movement Indicators)
     
    The average directional index (ADX) = trend indicator untuk mengukur kekuatan dan momentum sebuah trend
    Ketika momentum berada diatas 40 maka trend tersebut termasuk kuat baik keatas maupun kebawah tergantung dari arah pergerakan trend tersebut.
    Ketika momentum berada dibawah 20 maka trend tersebut lemah atau non-trending

    Selengkapnya dibahas di : The Trend Strength Indicator
     

    4.Aroon Indicator
     
    aroon_indicator
     
    The Aroon osciallatro = indikator untuk mengukur apakah sebuah saham lagi ngetrend dan kekuatan trend tersebut

    Indikator terdiri dari 2 garis yaitu:

  • Aroon-up line
  • Aroon-down line
  •  
    The Aroon indicator dibuat oleh Tushar Chande pada tahun 1995. Baik garis Aroon up dan Aroon down bergerak diatara 0 s/d 100 … mendekati angka 100 menunjukkan trend yang kuat sedangkan mendekati angka 0 menunjukkan trend yang lemah
     

  • Sebuah saham dianggap lagi uptrend apabila garis Aroon-up berada diatas 70, dan berada diatas Aroon-down line.
  • Sebuah saham dianggap lagi downtgrend apabila Aroon-down line berada diatas 70 dan berada diatas Aroon-up line.
  •  
    Selengkapnya dibahas di Finding The Trend With Aroon
     
    Calculating Aroon
     
    Bullish – [(# of periods) – (# of periods since highest high)] / (# of periods)] x 100
    Bearish – [(# of periods) – (# of periods since lowest low)] / (# of periods)] x 100
     
    Ke-2 Indikator Aroon (bullish and bearish) dapat dibuat dalam 1 oscillator dengan cara:

    Buat the bullish indicator 100 to 0 dan the bearish indicator 0 to -100 dan menemukan perbedaan antara keduanya …. Oscillator akan bergerak antara 100 dan -100, dimana 0 mengindikasikan no trend.
     

    5.MACD
     
    macd_indicator
     
    The moving average convergence divergence (MACD) = untuk mengetahui trend dan momentum sebuah saham
    Tujuannya untuk mengukur short-term momentum dibanding long term momentum untuk mengetahui arah pergerakan saham dikemudian hari
    Terdiri dari 2 exponential moving averages (EMA), yang meliputi 2 time periods yang membantu mengukur momentum sebuah saham

    The MACD = perbedaan antara ke-2 moving averages, yang biasanya merupakan 12-period dan 26-period EMA.
     
    Menghitung MACD

    MACDFormula
     
    Selengkapnya dibahas di Exploring Oscillators and Indicators: MACD
     
    6.Relative Strength Index
     
    RelativeStrengthIndex

    As you can see from the chart, the RSI ranges from 0 to 100. An asset is deemed to be overbought once the RSI approaches the 70 level, meaning that it may be getting overvalued and is a good candidate for a pullback. Likewise, if the RSI approaches 30, it is an indication that the asset may be getting oversold and therefore likely to become undervalued.
     
    The relative strength index (RSI)= indikasi relatip overbought atau oversold sebuah saham

    100 = tingkat overbought paling tinggi
    0 = tingkat tertinggi oversold

    The RSI membantu mengukur kekuatan up moves dibanding dengan kekuatan down moves…Indikasi apakah sebuah saham lebih banyak mendapat tekanan beli atau jual pada sebuah periode tertentu
     
    RSI = 100 – 100/(1 + RS*)

    * Where RS = Average of x days’ up closes / Average of x days’ down closes
     
    Selengkapnys dibahas di Ride The RSI Rollercoaster
     
    7.Stochastic Oscillator
     
    stochastic_indicator
     
    The stochastic oscillator = untuk mengukur momentum

    Pada upward trend maka harganya akan mendekati the highs of the trading range.
    Pada downward trend maka harganya akan mendekati the lows of the trading range.

    The stochastic oscillator diplot antara 0 s/d 100is plotted within a range of zero-100, and diatas 80 = overbought
    dibawah 20 = oversold

    Selengkapnya di Trading Psychology And Technical Indicators
     
    Melihat pergerakan saham
     
    Perusahaan yang tercatat di bursa saham

    http://www.idx.co.id/id-id/beranda/perusahaantercatat/profilperusahaantercatat.aspx